"gie"


Jadi disini..
tempat teraman bagiku meneriakkan segala asa yang tak pernah bermuara, tertatih membenahi retak
tanpa seorangpun melihat..

Aku, masih dengan bab pembahasan inti dalam hidupku yang belum bisa dengan sempurna kutamatkan, KAMU..

@gieFM (twitter)

Ask me anything

Friend of Mine

Hallo (cinta),
Sudah berapa lama kita tidak saling menyapa?
Satu bulan..
  Dua bulan..
    Tiga bulan..
      Empat bulan..
Selama itu pula setiap hari terasa seperti adegan slow motion di tv, begitu lambat.
Hari ini tepat di bulan kelima jeda kita.

Maaf untuk semua panggilanmu teleponmu yang tidak kujawab.
Maaf untuk semua pesan singkatmu yang tidak pernah kubalas.
Maaf untuk kekhilafanku mencintaimu.
Maaf karena jarak adalah satu-satunya ruang bagiku untuk bersembunyi sembari menata hati.

Seandainya kamu tahu sebenarnya aku begitu letih menarik diri, berperang melawan rinduku sendiri.
Aku tahu kamu juga letih mencari alasan di balik garis batas yang kutarik jelas tanpa penjelasan lugas hingga akhirnya kamu menyerah dan berhenti.

Ketahuilah, aku hanya sedang berusaha sekuat tenaga menempatkanmu dalam porsi yang seharusnya.

     Deep inside you’ll never see..
     This feelings of emptiness,
     it makes me feel sad..

Kamu ingat malam di bulan kedua setahun yang lalu?
Ada kita di sepanjang jalan ini.
Iya, saat ini aku sedang berjalan dari Stasiun Manggarai menuju terminal.
Semua masih sama, kecuali seorang sahabat yang tidak lagi melangkah di sisi.

Memoriku berputar lagi, kembali ke masa itu, bulan kedua setahun yang lalu..
Kamu menggenggam tanganku erat.
Entah untuk melindungiku dari hilir mudik kendaraan yang lewat atau hanya sekedar genggaman tangan dari seorang sahabat.
Atau..aku telah menganggapnya terlalu baku?
Karena lagi-lagi jantungku berdetak seperti pelari marathon yang kelelahan mengitari stadion.

Jemarimu terasa pas di sana, mengisi sela jemari ini dengan sempurna, tak ada cela.

Malam itu adalah malam paling manis dalam hidupku.
Aku bersinar..
Cahayaku mengalahkan seluruh pijar lampu jalan yang kita lewati pada setiap jengkal trotoar menuju terminal.

      I’ve shown you love you’ve never shown..

Sesekali aku menoleh ke arahmu, mencari tahu, menerka, mengerahkan seluruh kemampuan yang kupunya, berharap menemukan yang bisa kujadikan pertanda bahwa kamu juga merasakan hal yang sama..

Tapi tidak ada.. TIDAK SATUPUN PERTANDA.

     I’ve loved you ever since you’re a friend of mine..
    but Babe, is this all we ever could be?

Lagi dan lagi aku dipaksa untuk memahami bahwa momen ini harus kunikmati sendiri dalam hati, serupa dengan momen lainnya yang pernah kamu cipta.

Aku kecewa, cahayaku meredup, genggaman tanganku melemah..
Tapi kamu mempereratnya.

Ini adalah lima belas menit termanis yang pernah ada..
Lima belas menit termanis yang diberikan Tuhan bagiku untuk berasumsi bahwa kamu adalah milikku.

    I know this is how it’s gonna be..
    I’ve loved you then and i love you still..
    you are a friend of mine..
    now i know friends are we ever could be..

Banyak yang sebenarnya ingin kuceritakan kepadamu, sahabatku..
Tentang beribu rindu yang kubiarkan melayang di udara..
Tentang semua tulisanku yang berbau kamu..
Tentang tumpukan buku di lemari yang kubaca setiap malam untuk mencegahmu menyusup di pikiranku..
Juga tentang pria yang sekarang berjalan di sampingku menggantikan langkahmu, menggantikan jemarimu..

Aku menoleh sesekali ke arahnya. Ia tersenyum.
Ia bersinar di sampingku.
Tidak seperti dirimu, ia mencintaiku. Dan aku akan mencintainya..

Karena sekarang sudah waktunya aku berhenti dan melihat ke arah lain.
Sudah waktunya aku menyimpan kita rapi di kotak memori.

Tapi ketahuilah, akan selalu ada satu ruang kosong untukmu yang tidak akan pernah dapat dihuni oleh yang lain, karena satu ruang di hatiku adalah milikmu sampai kapanpun.

Aku akan selalu mencintaimu dengan sederhana, tidak ada yang istimewa kecuali tak ada masa dimana aku akan mati rasa. Hanya saja kali ini aku ingin memberi diriku kesempatan untuk dicintai.

P.S. : I have loved you and I love you still, my friend.. -gie.

#30HariLagukuBercerita (Friend of Mine-MYMP) - sebuah tulisan untuk Arga, seseorang yang belum bisa kutamatkan dengan sempurna..

“Hallo,(cinta)”

Ponselku berdering.
Samar-samar kulihat namamu di layar. Aku bergegas menggunakan kacamata minusku.

Maaf, aku telah membiarkanmu menunggu lama sebelum mengangkatnya.
Bukan. Bukan karena aku terlalu asyik menonton DVD serial korea (seperti yang kukatakan kepadamu) melainkan sibuk memberi perintah pada diriku untuk tetap tenang karena mendadak aku seperti anak kecil yang ingin melonjak kegirangan melihat namamu muncul lagi di layar ponselku.
Pada dering kelima, aku juga masih sibuk mengatur ulang jantungku yang mendadak seperti jantung seorang pelari marathon yang baru selesai mengitari lintasan stadion.

(cinta) satu-satunya yang kubiarkan menggantung di ujung bibir.
(cinta) satu-satunya yang aku rahasiakan darimu.
(cinta) satu-satunya yang selalu kuberikan tanda kurung di hadapanmu.
(cinta) satu-satunya yang kutulis dalam huruf kecil, tanpa cetak tebal.
Bukan karena gengsiku yang lebih tinggi dari langit ketujuh,juga bukan karena rasa malu yang membuatku tidak pernah mau mengaku, namun karena aku terlalu takut kehilangan sahabat terbaikku.. KAMU.

Hujan sore itu, setahun yang lalu, apa kamu masih ingat?
Aku mempercepat langkahku, menyusulmu dengan payung di tanganku,
tidak peduli dengan genangan air yang menelusup ke dalam pori-pori sepatuku,
tidak peduli dengan dingin yang menusuk hingga lapisan kulit terbawahku,
hanya karena lima belas menit sebelumnya, kamu menelepon dan mengatakan terjebak hujan dalam perjalanan menuju rumahku.
“Kamu benar-benar merepotkan” keluhku waktu itu. Lalu kamu tertawa.

Kita basah karena payung itu tidak cukup untuk kita berdua.
Kita mempercepat langkah, berlari, berlomba seperti pacuan kuda.
Kamu tertawa. Aku tertawa.
Dan anehnya, aku bahagia.

Hari itu, pertama kalinya aku tertawa dengan sepatuku yang terendam air dan bajuku yang basah.
Hari itu, pertama kalinya aku menolak mengakui bahwa aku jatuh cinta.

JAHAT! Ini sudah seminggu, jeda terlama kamu tidak memberiku kabar.
Setidaknya kamu bisa meneleponku, kan?
Kemarin malam sebelum akhirnya tertidur, aku memandangi namamu di list speed dial ponselku. Tapi kamu mengenalku dengan baik, kamu pasti tahu gengsiku terlalu tinggi untuk menekan tombol calling. Kemarinnya lagi, aku menghabiskan waktu mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi, sebuah sms dengan kata rindu yang kutujukan kepadamu.
Dan sesuai dugaan awal, semua hanya berakhir di draft ponselku.

And boy, you don’t know how hard my days without you.
I miss YOU :(

Kamu mulai menceritakan kepadaku bagaimana hari-harimu selama seminggu terakhir di Pekanbaru. Sepuluh menit berlalu, senyumku memudar, SAMA SEPERTI DULU, kamu mulai menceritakan lagi hal-hal yang tidak ingin kudengar (bahwa kamu jatuh cinta, bahwa kamu merasa kali ini berbeda, bahwa perempuan itu BLA..BLA..BLA..)

Kamu berkata seolah sedang bergerak maju, memulai dengan sesuatu yang baru dan melupakan cinta lalu.
Perkataan itu menyadarkanku bahwa aku masih berdiri di tempat yang sama sejak lama, tidak pernah beranjak kemana-mana, selalu berjaga-jaga, bertahan mencintai orang yang sama.

    You break my heart, you said “Girl, I’m in love with her.”
   And every beauty things she did to you, don’t stop and tell me more..

Dejavu. Rasanya seperti mengulang kembali pahit yang dulu..

    Loving you is hurt sometimes..
    I’m standing here you just don’t buy..
    I’m always there you just don’t feel..
   Or you just don’t wanna feel?

Pada akhirnya, aku cuma seorang perempuan yang sanggup mengeja “i love you” sesaat setelah menutup teleponmu..

Pada akhirnya (cinta) tetap kubiarkan berada di sana bersama dengan tanda kurungnya..

P.S.: I have loved you and I love you still -gie.

#30HariLagukuBercerita (Loving You-D’cinnamons)- Untuk Arga Radiptyo dan persahabatan kami yang membekas namun tak akan pernah menjadi ampas..

You, my secret~

Kita, rahasia yang tak ingin kutunjukkan kepada siapa-siapa.

Selama senja di atas sana tak bicara,
selama langit tak menuliskan dosa kita di hadapan dunia, biar kita berdua,
mendua..
Di bilik setia yang tak terjaga
antara kau dan dia,
antara aku dan dirinya.

Karena jemarimu mengisi ruang jemariku dengan sempurna, terasa lebih tepat dari dirinya.

Karena tawamu bergelanyur hingga ke rongga dada, lebih lembut dari dirinya.

Karena katamu, mataku yang ingin kau lihat setiapkali kau terjaga, bukan matanya.

Karena katamu, namaku ada di setiap sel otakmu, melekat lebih hebat dari namanya.

Biar ini menjadi rahasia kita yang hanyut bersama penyangkalan setiap kali mereka bernada sumbang.

Tapi aku, kamu, tau..
bahwa cerita kita tak pernah benar-benar tenggelam.

~Pernah ada kita di sana~

Masih ingatkah kau, pernah ada kita di sana, menghabiskan senja hingga nyaris malam dengan balutan sendu..
ada bunyi langkah kita di bayang temaram lampu jalan..
ada cinta yang bersembunyi di balik keheningan..
juga pelukmu sebagai isyarat perpisahan..

Aku kah yang menganggapnya terlalu baku ketika kau memelukku lebih dulu, membiarkan hangatmu mengalir hingga buku jemariku?

“Jangan menangis..” katamu.

Bagaimana bisa? Sementara kau membiarkanku kehilangan tanpa sebuah persiapan.

Aku menengadah mencoba menghentikan derasnya airmataku.

Kau terdiam.

Kurasa itulah pengorbanan terakhirku..
melepasmu, meretas “kita” menjadi sekedar “aku” dan “kamu”.

Kurasa cinta yang kuberikan cuma-cuma t’lah membuatku lupa untuk sekedar bertanya.. “apa kau mencintaiku seperti aku mencintaimu?”

Atau aku yang hanya terlalu pengecut hingga tak berani bertanya?

Kini aku menulisnya agar kau tak lupa..
bahwa pernah ada kita di sana, di satu sendu senja beberapa jam sebelum kau memilih untuk berpisah..

…For you, I’ve been trying to be someone, but i’m still no one…

~Ini kisahku dan sebuah rasa yang kuberi nama CINTA~

Ia pernah menunjuk satu sudut di tengah kota tepat saat mengantarku menuju halte trans Jakarta.
Satu sudut dimana ia berteduh dari rintik hujan bersama dengan perempuan yang ia cinta pada satu malam menjelang ulang tahunnya.

Sepintas ku lihat raut bahagia di wajahnya. Sesaat kemudian wajah itu berubah kelabu tersadar oleh perih atas pengkhianatan yang diterimanya.

Berkali menyela kisahnya dengan canda dan membuatnya tertawa adalah prestasi yang patut kubanggakan.
Bagaimanapun, aku selalu berhasil bersembunyi dibalik tawaku sendiri seraya membungkus cinta dan mengikatnya rapi dengan seutas bisu.

Aku adalah perempuan yang melangkah di sisinya tanpa pernah ada di hatinya.
Aku adalah perempuan yang mendengarkan kisahnya tanpa pernah menjadi bagian di dalamnya.

Namun bukankah semestinya masih terlalu dini untuk sebuah patah hati? ketika aku baru saja menyadari alasan mengapa pipi ini memerah setiap kali bersamanya..
Atau ketika aku baru saja menyadari alasan mengapa matanya adalah pemandangan yang paling mempesona..
Atau ketika aku baru saja menyadari alasan mengapa ada perih setiap kali ia bercerita tentang perempuan masa lalunya..

Jadi, bukankah terlalu dini untuk sebuah patah hati ketika cinta baru saja menyapaku dan memperkenalkan dirinya?

Ini kisahku, perempuan yang terluka karena tak kuasa menutup telinga.
Ini kisahku, perempuan yang hanya mampu membisikkan perasaannya kepada malam saat pria yang dicintainya membalikkan badan.
Ya, Ini kisahku dan sebuah rasa yang mengendap lama tak terurai menjadi kata..
sebuah rasa yang pada akhirnya kuberi nama CINTA..

~Simply love~

Bukankah terlalu sulit untuk melepaskan seseorang yang kamu cintai sepenuh hati?
Tapi bukankah lebih sulit untuk melihatnya mati karena ketidakbahagiaannya di sisi?

Sore itu, salah seorang temanku sempat berkata di sela ceritanya..

“Aku lebih baik ditinggal mati olehnya dibanding ditinggal untuk kemudian melihatnya bersama yang lain seperti saat ini. Aku terlanjur mencintainya setengah mati..”

Mimiknya suram dan hampir menangis.
Aku tau dia begitu sakit melihat orang yang ia cinta berpaling menjatuhkan hati pada yang lain.

Aku terdiam, merenungi perkataannya sesaat, hingga ia melanjutkan kembali dengan sebuah pertanyaan..

“Jika kamu jadi aku, katakan apa yang akan kamu lakukan.
Pasti kamu akan mengatakan hal yang sama kan?”

Seketika rasa ngilu menyeruak tepat dari dalam dadaku. Butuh satu hela napas panjang sebelum aku menjawabnya..

“Jika aku mencintai seseorang setengah mati, demi apapun aku lebih ingin dia tetap hidup meski bersama yang lain dibanding harus membiarkan diriku melihatnya mati di sisiku..

Jika aku mencintai seseorang sepenuh hati seperti yang kamu katakan kamu rasakan, demi apapun aku akan memohon pada Tuhan untuk membiarkanku mati hari ini jika ia telah dituliskan mati esok hari…

Jika aku mencintai sepenuh hati,
aku tak peduli seberapa terlukanya aku akibat merelakannya pergi demi mendapatkan kebahagiaannya yang lain lagi..”

Ada hening yang begitu sunyi tak lagi bersembunyi dari seorang teman yang lima menit lalu menggebu dengan definisi cintanya sendiri.

Lagi, aku menarik napas dalam sebelum meneruskan kata-kataku..

“Dan hanya jika kamu benar mencintainya sepenuh hati seperti yang kamu katakan, kamu pasti akan melihat cinta dari sisi yang sama denganku..”

Hanya Sesederhana itu..

Aku ingin menjadi masa depanmu..
Duduk menemanimu bersama secangkir teh bercanda dengan rerumputan basah dengan kaki telanjang.

Aku ingin menjadi masa depanmu..
tertidur pulas di pangkuanmu setelah letih dipermainkan hari.

Aku ingin menjadi masa depanmu..
meletakkan kepala di bahumu, menatap senja dari jendela yang sama.

Aku ingin menjadi masa depanmu.. Mengecup keningmu sebelum malam menyelimutimu menuju pagi.

Aku ingin menjadi masa depanmu..
Tertawa untuk setiap candamu dan memelukmu ketika kau marah.

Aku ingin menjadi masa depanmu..
Menyisipkan cinta di telingamu setiap pagi,
Menyelipkan rindu saat kau pergi.

Aku ingin menjadi masa depanmu..
Menikmati metamorfosa menjadi renta hingga tutup usia.

Aku ingin menjadi masa depanmu..
bersamamu tanpa spasi dan jeda,
tanpa titik dan koma.
Lihatlah, hanya sesederhana itu,
aku ingin menjadi masa depanmu..

Apa kabarmu, CINTA?

Apa kabarmu, cinta?
Hanya jika kau ingin tau.
Kabarku masih sama..
Tak ada yang baru dalam hidupku..
Masih dengan hobi lamaku, mencintaimu..

Mungkin aku memang dilahirkan dengan bakat ini, tak bisa berhenti mencintai hingga terluka sendiri dan perlahan mati..

Lalu bagaimana denganmu, cinta?
Masihkah dengan hobi lamamu, mencintainya tanpa ada habisnya?

Aku rasa kita memiliki bakat yang sama,
Mencintai hingga terluka sendiri kemudian perlahan mati..

Kita, dua jiwa yang terluka karena tak sudi menepikan cinta untuk berdamai dengan logika..
Kita, dua jiwa yang memandang ke arah berbeda, kemudian terluka.

Sementara aku mengatasnamakan cinta memandangmu,
Kau mengatasnamakan cinta memandangnya..

Cinta..
seharusnya aku melihatnya dengan cara yang sederhana, mengenakan logika tanpa embel harap apa-apa..

Karena seperti halnya kau yang tak pernah bisa mencintai secangkir kopi, seperti itulah kau tak pernah bisa mencintaiku..

Belajar Melepasmu

Pernah ada masa dimana duniaku terpusat hanya pada satu nama.

Pernah ada masa dimana jemariku manari di udara hanya ‘tuk melukis satu nama.

Pernah ada masa dimana setiap hela nafasku berisi cinta hanya untuk satu nama.

Pernah ada masa dimana aku berfikir aku akan ada di sana, di hatimu, seorang yang ku cinta.

Namun apalah aku, untuk selamanya berharap pada sebuah mungkin.

Apalah aku untuk selamanya tetap melangkah di atas ragu sendiri.

Apalah aku, untuk selamanya bertahan sementara detak jantung nyaris berhenti.

Ya, aku sekarat. Tepat di persimpangan dengan asa dan sejuta mimpinya.

Hingga ada masa dimana waktu mengajarku mengeja “ikhlas”, sebuah kata ajaib yang membawamu perlahan tersapu oleh iringan awan. Mengecup setiap tetes hujan serupa upacara perpisahan. Dan entah pada hitungan keberapa, suara nafasmu t’lah terganti oleh tarian dedaunan. Indah..

Ah, sungguh aku tak pernah paham sebelumnya bahwa melepaskan bisa begitu melegakan..

Namun yakinku tetap ada.. Bahwa akan ada masa dimana aku ada di sana, di hati seorang yang ku cinta, walau bukan hatimu, seperti yang pernah kukira..